DASA PANGUDI SEJATINING URIP

dasa pangudi sejatining urip
Sepuluh Pedoman Laku dalam Kawruh Sejati

Dasa Pangudi Sejatinining Urip merupakan sepuluh pedoman untuk mengarahkan kehidupan janma manusa menuju laku yang selaras dengan Kawruh Sejati.
Dasar pemikiran ... BUKA

Pemahaman yang benar mengenai kehidupan,
seharusnya tampak melalui cara berpikir, cara merasakan, cara menghendaki, serta cara manusia bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

- Kawruh Sejati -

Dasa Pangudi Sejatinining Urip tidak dimaksudkan hanya sebagai kumpulan perintah dan larangan, melainkan sebagai tuntunan untuk menata hubungan manusia dengan Sang Sumber Panguripan, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri.

Dalam kerangka Kawruh Sejati, kawruh tidak berhenti pada sesuatu yang diketahui. Kawruh harus diwujudkan dalam laku.

Pemahaman yang benar mengenai kehidupan seharusnya tampak melalui cara berpikir, cara merasakan, cara menghendaki, serta cara manusia bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Dasa Pangudi Sejatinining Urip memiliki hubungan erat dengan cipta, rasa, dan karsa. Kesepuluh pedoman tersebut pada akhirnya mengarahkan manusia kepada satu tujuan batin dan perilaku, yaitu resiking cipta, rasa, lan karsa.

Dasa Pangudi Sejatinining Urip.
Sepuluh pedoman tersebut dirumuskan sebagai berikut:

1. “Aja nyembah gusti liyane, mung Hyang Manon, Sang Sumber Panguripan kang pantes disembah.”
2. “Aja ndadosake reca utawa pepethan minangka sesembahan.”
3. “Aja nyebut asmané Hyang Manon kanthi sembrana.”
4. “Aja sembrana marang dina kagungane Hyang Manon.”
5. “Pangestonana bapa lan biyung sira.”
6. “Aja cidra marang uriping liyan.”
7. “Ngupadi lakuning urip kanthi utama.”
8. “Aja menehi paseksen palsu marang pepadha.”
9. “Aja nduweni pepinginan ala marang kagungane wong liya.”
10. “Tansah ngupadi resiking cipta, rasa lan karsa.”

Kesepuluh prinsip ini memiliki ruang pengamalan yang berbeda, tetapi semuanya saling berkaitan dalam membentuk laku kehidupan yang utama.

1. Mengakui keberadaan Sang Sumber Panguripan.
“Aja nyembah gusti liyane, mung Hyang Manon, Sang Sumber Panguripan kang pantes disembah.”

Pedoman pertama menempatkan Sang Sumber Panguripan sebagai dasar orientasi kehidupan. Dalam Kawruh Sejati, Sang Sumber Panguripan tidak dipahami sebagai benda, tempat, atau sesuatu yang dapat diwujudkan dalam bentuk tertentu.

Manusia diarahkan untuk memahami sumber keberadaannya dan menempatkan kehidupan dalam kesadaran akan asal dan sumber panguripan. Dengan demikian, sembah bukan sekadar tindakan lahiriah, tetapi juga sikap batin yang menempatkan manusia pada kesadaran mengenai keterbatasan dirinya.

2. Tidak menjadikan bentuk sebagai sesembahan.
“Aja ndadosake reca utawa pepethan minangka sesembahan.”

Pedoman kedua berkaitan dengan cara manusia memahami yang disembah. Reca atau pepethan merupakan bentuk yang dapat dibuat, dilihat, dan disentuh.

Sementara itu, Sang Sumber Panguripan tidak dapat disamakan dengan bentuk material.

Dalam kaitannya dengan Kawruh Sejati, pedoman ini mengarahkan manusia agar tidak berhenti pada simbol. Simbol dapat menjadi pengingat, tetapi tidak seharusnya menggantikan hakikat yang hendak dipahami.

3. Menjaga kesungguhan dalam menyebut asma Hyang Manon.
“Aja nyebut asmané Hyang Manon kanthi sembrana.”

Nama memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia karena nama dapat mengarahkan cipta kepada sesuatu yang dimaksud.

Oleh karena itu, menyebut asma Hyang Manon tidak semestinya dilakukan dengan sikap yang sembrana.

Maknanya bukan sekadar menjaga ucapan, tetapi menjaga kesadaran. Cipta yang selalu digunakan secara sembarangan akan mudah kehilangan ketertiban. Sebaliknya, cipta yang wening akan melahirkan ucapan dan tindakan yang lebih tertata.

4. Menghargai dina kagungane Hyang Manon.
“Aja sembrana marang dina kagungane Hyang Manon.”

Pedoman keempat mengajarkan kesadaran terhadap waktu kehidupan. Makna hari dalam hal ini bukan sekadar pergantian hari, tetapi bagian dari kesempatan yang diberikan dalam perjalanan panguripan.

Manusia memiliki batas waktu. Karena itu, waktu tidak seharusnya dijalani secara sembrana. Kesadaran terhadap waktu mendorong manusia menggunakan kehidupan untuk ngupadi kabecikan, memperbaiki diri, dan menjalankan laku yang utama.

5. Menghormati bapa lan biyung
“Pangestonana bapa lan biyung sira.”

Bapa lan biyung merupakan bagian penting dari keberadaan manusia karena melalui keduanya manusia hadir dalam kehidupan.

Menghormati bapa dan biyung bukan hanya persoalan hubungan keluarga, tetapi juga kesadaran terhadap asal-usul kehidupan jasmani.

Dalam Kawruh Sejati, kesadaran terhadap asal kehidupan semestinya menumbuhkan rasa hormat dan sikap yang tidak melupakan sumber kehidupan yang paling dekat dengan manusia.

6. Tidak mencederai kehidupan orang lain.
“Aja cidra marang uriping liyan.”

Kehidupan tidak hanya berisi hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Setiap manusia hidup bersama dengan manusia lainnya. Karena itu, tindakan seseorang memiliki hubungan atau berkaitan dengan kehidupan orang lain.

Aja cidra marang uriping liyan berarti tidak melakukan tindakan yang merusak, mencelakakan, menindas, atau mengkhianati kehidupan sesama.

Pedoman ini menunjukkan bahwa Kawruh Sejati harus tampak dalam perilaku nyata.
Kawruh yang tidak menghasilkan sikap menghargai kehidupan masih perlu diwujudkan lebih jauh dalam laku kehidupan.

7. Mengupayakan kehidupan yang utama.
“Ngupadi lakuning urip kanthi utama.”

Pedoman ketujuh merupakan dorongan aktif. Manusia tidak cukup hanya menghindari kesalahan. Manusia juga perlu mengupayakan bagaimana kehidupannya dapat dijalani dengan utama.

Utama tidak semata-mata berarti berhasil menurut ukuran lahiriah. Utama berkaitan dengan kualitas laku, yaitu bagaimana cipta, rasa, dan karsa digunakan dalam kehidupan.

Karena itu, manusia perlu terus mawas diri, senantiasa meneliti apakah pikirannya semakin wening, rasanya semakin tulus, dan kehendaknya semakin utama?

8. Tidak memberikan kesaksian palsu
“Aja menehi paseksen palsu marang pepadha.”

Paseksen palsu merusak hubungan antar manusia karena fakta kebenaran diputarbalikkan.

Pedoman ini mengajarkan pentingnya kejujuran dalam hubungan dengan sesama manusia.

Dalam kerangka Kawruh Sejati, kejujuran bukan sekadar aturan sosial. Kejujuran berkaitan dengan kejernihan cipta dan rasa.

Ketika manusia membiasakan diri memalsukan kenyataan, cipta dan rasa pun semakin jauh dari keadaan yang wening.

9. Tidak memiliki keinginan buruk terhadap hak milik orang lain.
“Aja nduweni pepinginan ala marang kagungane wong liya.”

Keinginan terhadap sesuatu yang menjadi milik orang lain dapat berkembang menjadi iri, dengki, perebutan, atau tindakan yang merugikan sesama.

Pedoman ini tidak berarti manusia tidak boleh memiliki keinginan untuk maju. Yang diarahkan adalah agar karsa tidak berkembang menjadi keinginan buruk terhadap hak dan kepunyaan orang lain.

Di sinilah pentingnya utamaning karsa. Karsa bukan untuk ditekan, melainkan diarahkan agar kehendak manusia berjalan dalam batas yang utama.

10. Senantiasa mengupayakan kebersihan cipta, rasa, dan karsa.
“Tansah ngupadi resiking cipta, rasa lan karsa.”

Pedoman kesepuluh sekaligus menjadi salah satu inti Dasa Pangudi Sejatinining Urip.

Setelah manusia memahami hubungannya dengan Sang Sumber Panguripan, menghormati kehidupan, menjaga ucapan, menghargai sesama, dan mengarahkan perilakunya, seluruh laku tersebut kembali kepada keadaan batin manusia sendiri.

Cipta perlu diwujudkan sebagai weninging cipta.

Rasa perlu diwujudkan sebagai tulusing rasa.

Karsa perlu diarahkan menuju utamaning karsa.

Dengan demikian, Dasa Pangudi Sejatinining Urip tidak hanya berbicara mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ia juga mengajak manusia melihat sumber dari tindakan tersebut, yaitu bagaimana keadaan cipta, rasa, dan karsa sebelum suatu tindakan lahir.

Dasa Pangudi Sejatinining Urip dan Kawruh Sejati.
Hubungan antara Dasa Pangudi Sejatinining Urip dan Kawruh Sejati terletak pada hubungan antara kawruh dan laku.

Kawruh Sejati bukan sekadar kumpulan pengetahuan mengenai kehidupan. Pemahaman terhadap kehidupan harus mengubah cara manusia menjalani kehidupan itu sendiri.

Oleh karena itu, Dasa Pangudi Sejatinining Urip dapat dipahami sebagai salah satu bentuk pengamalan kawruh dalam kehidupan nyata.

Dari sepuluh pedoman tersebut dapat dilihat adanya tiga lingkup utama.

Pertama, hubungan dengan Sang Sumber Panguripan, yang tampak dalam pedoman mengenai Hyang Manon, Sang Sumber Panguripan, asma, dan dina.

Kedua, hubungan dengan sesama, yang tampak dalam penghormatan kepada bapa dan biyung, tidak mencederai kehidupan orang lain, tidak memberikan kesaksian palsu, serta tidak memiliki keinginan buruk terhadap milik orang lain.

Ketiga, hubungan dengan diri sendiri, yang tampak dalam upaya menjalani kehidupan secara utama dan senantiasa membersihkan cipta, rasa, dan karsa.

Ketiga lingkup tersebut tidak berdiri sendiri.

Kesadaran terhadap Sang Sumber. Panguripan semestinya tercermin dalam hubungan dengan sesama dan dalam cara manusia menata dirinya sendiri. Dasa Pangudi sebagai laku, bukan sekadar aturan

Hal terpenting dari Dasa Pangudi Sejatinining Urip adalah pengamalannya. Sepuluh pedoman tersebut tidak akan memiliki makna apabila hanya dihafalkan sebagai rangkaian kalimat.

Kawruh perlu dadi laku.

Manusia dapat mengetahui pentingnya kejujuran, tetapi yang lebih penting adalah tidak memberikan paseksen palsu.

Manusia dapat memahami pentingnya menghormati kehidupan, tetapi yang lebih penting adalah tidak menciderai uriping liyan.

Manusia dapat memahami pentingnya kebersihan batin, tetapi yang lebih penting adalah terus mengupayakan resiking cipta, rasa, dan karsa dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Dasa Pangudi Sejatinining Urip menjadi jalan untuk membawa pemahaman menuju tindakan. Dari kawruh menuju laku, dari kesadaran menuju perilaku, dan dari pemahaman mengenai kehidupan menuju kehidupan yang dijalani dengan lebih utama.

Pada akhirnya, Dasa Pangudi Sejatinining Urip mengarahkan manusia untuk tidak hanya bertanya tentang apa yang benar, tetapi juga melihat bagaimana kebenaran tersebut diwujudkan dalam kehidupan.

FAQ tentang Dasa Pangudi Sejatining Urip.

1. Apa yang dimaksud Dasa Pangudi Sejatinining Urip?
Dasa Pangudi Sejatinining Urip adalah sepuluh pedoman laku yang mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan dengan kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan, menghormati sesama, dan menata cipta, rasa, serta karsa.

2. Apa hubungan Dasa Pangudi Sejatinining Urip dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati memberikan pemahaman mengenai hakikat kehidupan, sedangkan Dasa Pangudi Sejatinining Urip mengarahkan pemahaman tersebut agar diwujudkan dalam laku kehidupan.

3. Apakah Dasa Pangudi Sejatinining Urip hanya berisi larangan?
Tidak. Di dalamnya terdapat larangan terhadap tindakan yang merusak kehidupan, tetapi juga terdapat tuntunan aktif untuk mengupayakan lakuning urip kanthi utama dan resiking cipta, rasa, lan karsa.

4. Mengapa cipta, rasa, dan karsa menjadi bagian penting?
Karena tindakan manusia tidak muncul begitu saja. Sebelum tindakan lahir, terdapat proses dalam cipta, rasa, dan karsa. Karena itu, laku yang baik perlu dimulai dari upaya menata ketiganya.

5. Apakah Dasa Pangudi Sejatinining Urip hanya berkaitan dengan hubungan manusia kepada Sang Sumber Panguripan?
Tidak. Pedoman ini mencakup tiga hubungan sekaligus: hubungan dengan Sang Sumber Panguripan, hubungan dengan sesama, dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

6. Apa inti dari Dasa Pangudi Sejatinining Urip?
Intinya adalah mengarahkan kehidupan agar berjalan secara utama melalui kesadaran, penghormatan terhadap kehidupan, kejujuran, serta upaya terus-menerus menuju weninging cipta, tulusing rasa, lan utamaning karsa.

Komentar