Mengakui Keberadaan Sang Sumber Panguripan dalam pemahaman Kawruh Sejati
Sang Sumber Panguripan merupakan dasar penting dalam memahami kehidupan manusia dalam kerangka Kawruh Sejati.
Kehidupan yang dijalani janma manusa bukan sesuatu yang muncul dari dirinya sendiri. Ada sumber panguripan yang mendasari keberadaan segala kehidupan, sementara manusia menjalani kehidupan sebagai bagian dari panguripan tersebut.
Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan bukan sekadar persoalan menerima suatu pernyataan atau mempercayai keberadaan sesuatu yang tidak terlihat.
Dalam Kawruh Sejati, manusia diarahkan untuk ngaweruhi dan memahami kehidupan secara lebih mendalam. Sang Sumber Panguripan tidak ditempatkan sebagai benda, tempat, bentuk, ataupun sosok yang dapat diwujudkan menurut gambaran manusia.
Karena itu, mengakui keberadaan Sang Sumber Panguripan perlu dipahami sebagai bagian dari kesadaran manusia terhadap hakikat panguripan.
Kesadaran tersebut kemudian menjadi dasar bagi cara manusia memandang dirinya, menjalani kehidupan, dan melakukan laku.
Sang Sumber Panguripan Bukan Benda atau Bentuk.
Dalam pemahaman Kawruh Sejati, Sang Sumber Panguripan tidak dapat disamakan dengan benda atau sesuatu yang memiliki bentuk tertentu.
Benda dapat dilihat, disentuh, dipindahkan, dan dibatasi oleh ruang. Sang Sumber Panguripan tidak ditempatkan dalam pengertian seperti itu.
Sang Sumber Panguripan juga bukan suatu tempat yang dapat didatangi. Ia bukan lokasi tertentu di luar kehidupan yang harus dicari melalui perjalanan fisik.
Pemahaman ini menjadi penting karena manusia sering kali mencoba memahami sesuatu yang belum dipahaminya dengan membuat gambaran berdasarkan apa yang telah dikenalnya.
Sesuatu yang tidak berbentuk kemudian dibayangkan memiliki bentuk. Sesuatu yang tidak berada dalam batas ruang kemudian dibayangkan menempati suatu tempat.
Kawruh Sejati mengajak manusia berhati-hati terhadap kecenderungan tersebut.
Sang Sumber Panguripan tidak perlu dibentuk menjadi gambaran agar dapat disebut sebagai sumber kehidupan.
Keberadaan-Nya tidak bergantung pada bentuk yang dibuat oleh pikiran manusia.
“Wis Ana” ing Panguripan.
Ungkapan “wis ana” memiliki makna penting dalam memahami Sang Sumber Panguripan.
Ketika manusia menyadari bahwa dirinya hidup, sebenarnya ia telah berhadapan dengan kenyataan panguripan. Manusia tidak menciptakan keberadaannya sendiri dari ketiadaan. Ia lahir, tumbuh, mengalami kehidupan, dan menjalani berbagai perubahan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali dirinya.
Kesadaran tersebut membawa manusia kepada pemahaman bahwa panguripan memiliki sumber.
Dengan demikian, pembahasan Sang Sumber Panguripan bukan dimulai dari usaha membuktikan suatu bentuk atau mencari suatu tempat, melainkan dari ngaweruhi panguripan itu sendiri.
Manusia tidak perlu menciptakan Sang Sumber Panguripan melalui pemikiran. Sang Sumber Panguripan telah ada.
Yang perlu dilakukan manusia adalah mengembangkan kemampuan untuk memahami kedudukan dirinya di dalam panguripan tersebut.
Mengapa Disebut Sang Sumber Panguripan?
Istilah Sang Sumber Panguripan menunjuk pada sumber dari kehidupan. Kata “sumber” digunakan untuk menjelaskan hubungan mendasar antara asal kehidupan dan kehidupan yang berlangsung.
Manusia dapat mengalami kehidupan karena ia hidup. Namun manusia bukan pencipta kehidupannya sendiri. Ia menerima keberadaan hidup dan kemudian menjalani kehidupan tersebut melalui raga, kesadaran, cipta, rasa, dan karsa.
Karena itu, menyadari Sang Sumber Panguripan juga berarti menyadari keterbatasan manusia.
Manusia dapat berpikir, memilih, merencanakan, dan bertindak. Akan tetapi, kemampuan tersebut tetap berlangsung di dalam panguripan yang bukan sepenuhnya hasil kehendak manusia.
Kesadaran semacam ini dapat melahirkan sikap andhap asor. Manusia tidak perlu merasa sebagai pusat dari seluruh kehidupan, karena keberadaannya sendiri merupakan bagian dari panguripan.
Sang Sumber Panguripan dan Kawruh Sejati.
Hubungan antara Sang Sumber Panguripan dan Kawruh Sejati dapat dipahami melalui proses pengenalan terhadap hakikat kehidupan.
Kawruh Sejati tidak hanya berbicara mengenai apa yang diketahui manusia. Ia juga berkaitan dengan kemampuan untuk memahami kenyataan secara lebih jernih dan tidak mencampurkannya dengan berbagai gambaran yang dibuat oleh pikiran.
Dalam konteks Sang Sumber Panguripan, manusia perlu membedakan antara Sang Sumber Panguripan itu sendiri dengan pemahaman manusia mengenai Sang Sumber Panguripan.
Sang Sumber Panguripan tidak bergantung pada pengetahuan manusia. Sebaliknya, pengetahuan manusia mengenai Sang Sumber Panguripan merupakan hasil dari kemampuan manusia dalam memahami panguripan.
Pembedaan ini penting agar manusia tidak menganggap gambaran atau konsep yang ada dalam pikirannya sebagai Sang Sumber Panguripan itu sendiri.
Dengan kata lain, Kawruh Sejati bukan usaha menciptakan gambaran mengenai Sang Sumber Panguripan, melainkan upaya memahami kenyataan panguripan dengan lebih jernih.
Kesadaran sebagai Jalan Pengenalan.
Kesadaran memiliki kedudukan penting dalam proses tersebut. Manusia hanya dapat ngaweruhi sesuatu melalui kesadaran.
Ketika manusia menyadari bahwa dirinya hidup, ia mulai dapat memperhatikan berbagai proses yang berlangsung dalam kehidupannya. Ia menyadari tubuhnya, pikirannya, perasaannya, kehendaknya, serta tindakan yang dilakukan.
Dari sini manusia dapat melihat bahwa dirinya bukan sekadar raga.
Dalam kehidupan manusia terdapat cipta, rasa, dan karsa yang terus bergerak. Cipta digunakan untuk memahami dan mempertimbangkan. Rasa menjadi bagian dari penghayatan terhadap kehidupan. Karsa mengarahkan kehendak menuju tindakan.
Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan kemudian menjadi dasar untuk menata ketiganya.
Cipta diarahkan menuju weninging cipta.
Rasa diarahkan menuju tulusing rasa.
Karsa diarahkan menuju utamaning karsa.
Dengan demikian, kesadaran mengenai Sang Sumber Panguripan tidak berhenti sebagai pemikiran, tetapi memiliki konsekuensi terhadap cara manusia menjalani kehidupannya.
Sembah sebagai Sikap Kesadaran
Dalam Dasa Pangudi Sejatinining Urip terdapat pedoman:
“Aja nyembah gusti liyane, mung Hyang Manon, Sang Sumber Panguripan kang pantes disembah.”
Kalimat ini perlu dipahami dalam hubungan dengan keseluruhan Kawruh Sejati. Sembah tidak hanya dipahami sebagai gerakan lahiriah. Sembah juga menunjukkan sikap batin manusia ketika menyadari kedudukannya dalam panguripan.
Manusia tidak menjadi sumber bagi dirinya sendiri. Karena itu, sembah dapat dimaknai sebagai sikap andhap asor dan kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan.
Namun, sembah juga tidak berarti manusia harus membuat gambaran mengenai Sang Sumber Panguripan.
Justru sebaliknya, manusia perlu memahami bahwa Sang Sumber Panguripan tidak dapat dibatasi oleh gambaran yang dibuat oleh cipta manusia.
Tidak Menjadikan Pepethan sebagai Sang Sumber Panguripan.
Pemahaman tersebut berkaitan langsung dengan pedoman berikutnya:
“Aja ndadosake reca utawa pepethan minangka sesembahan.”
Reca, patung atau pepethan merupakan sesuatu yang memiliki bentuk. Ia dibuat oleh manusia dan dapat dilihat secara inderawi.
Jika Sang Sumber Panguripan tidak berupa benda atau bentuk tertentu, maka bentuk buatan manusia tidak dapat disamakan dengan Sang Sumber Panguripan.
Persoalan utamanya bukan sekadar mengenai benda tersebut, tetapi mengenai cara manusia memahami kenyataan.
Ketika simbol dianggap sebagai hakikat, manusia dapat berhenti pada bentuk dan tidak lagi memahami apa yang hendak ditunjuk oleh pemahaman tersebut.
Kawruh Sejati mengarahkan manusia untuk tidak mencampurkan antara simbol, gambaran, pemikiran, dan kenyataan yang hendak dipahami.
Kesadaran terhadap Keterbatasan Diri.
Mengakui keberadaan Sang Sumber Panguripan juga membawa manusia kepada kesadaran terhadap keterbatasan dirinya.
Manusia memiliki kemampuan berpikir, tetapi tidak mengetahui segala sesuatu.
Manusia memiliki kehendak, tetapi tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan.
Manusia dapat merencanakan kehidupan, tetapi tidak dapat memastikan seluruh hasilnya.
Kesadaran terhadap keterbatasan tersebut bukan berarti manusia harus pasif. Justru manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
Ia tetap perlu menggunakan cipta untuk memahami, rasa untuk menghayati, dan karsa untuk bertindak.
Perbedaannya adalah bahwa manusia menjalankan semua itu dengan kesadaran bahwa dirinya bukan sumber tunggal dari kehidupan.
Dari Kawruh Sejati Menuju Dasa Ngupadi Sejatining Urip.
Kawruh yang hanya berada dalam pikiran belum menjadi laku. Pemahaman mengenai Sang Sumber Panguripan perlu tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Dasa Ngupadi Sejatining Urip menjadi salah satu bentuk pengamalan pemahaman tersebut.
Prinsip pertama dari Sepuluh pedoman di dalamnya mengarahkan manusia untuk menjaga hubungan dengan Sang Sumber Panguripan, menghormati kehidupan, menata hubungan dengan sesama, serta membersihkan cipta, rasa, dan karsa.
Dengan demikian, Dasa Ngupadi Sejatining Urip bukan sekadar kumpulan aturan. Ia merupakan pangudi, yaitu upaya yang dilakukan secara sadar untuk mengarahkan kehidupan menuju keadaan yang lebih utama.
Dari Kesadaran Menuju Laku.
Pemahaman mengenai Sang Sumber Panguripan akan kehilangan makna apabila hanya menjadi pengetahuan yang disimpan dalam pikiran.
Dalam Kawruh Sejati, kawruh kudu dadi laku.
Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan seharusnya tercermin dalam cara manusia memperlakukan kehidupan.
Manusia tidak seharusnya menggunakan kehidupannya secara sewenang-wenang. Ia perlu menghargai sesama, menjaga kehidupan, mengendalikan keinginan yang merugikan, dan terus menata cipta, rasa, serta karsa.
Dengan demikian, pengenalan terhadap Sang Sumber Panguripan mempunyai hubungan langsung dengan kualitas laku.
Semakin manusia menyadari keterbatasan dirinya, semakin ia memiliki alasan untuk menjalani kehidupan dengan andhap asor.
Semakin ia memahami bahwa kehidupan memiliki sumber, semakin ia perlu menghargai panguripan itu sendiri.
Penutup
Mengakui Keberadaan Sang Sumber Panguripan dalam kerangka Kawruh Sejati bukan sekadar menerima suatu pernyataan mengenai keberadaan sesuatu yang tidak terlihat. Yang lebih penting adalah memahami bahwa Sang Sumber Panguripan wis ana ing panguripan dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada gambaran, bentuk, atau pemikiran manusia.
Manusia kemudian diarahkan untuk ngaweruhi kedudukannya dalam panguripan, menyadari keterbatasannya, dan menjalani kehidupan dengan lebih tertata.
Kesadaran tersebut tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Sang Sumber Panguripan. Ia juga diwujudkan melalui kehidupan sehari-hari: weninging cipta, tulusing rasa, lan utamaning karsa.
Dengan demikian, mengenali Sang Sumber Panguripan bukan hanya persoalan apa yang diyakini, tetapi bagaimana kesadaran tersebut mengubah cara manusia menjalani panguripan.
FAQ tentang Mengakui Keberadaan Sang Sumber Panguripan dalam Kawruh Sejati.
1. Apa yang dimaksud Sang Sumber Panguripan?
Sang Sumber Panguripan adalah sumber kehidupan yang menjadi dasar keberadaan panguripan. Dalam Kawruh Sejati, Sang Sumber Panguripan tidak dipahami sebagai benda, tempat, atau sesuatu yang memiliki bentuk tertentu.
2. Apa arti “Sang Sumber Panguripan wis ana ing panguripan”?
Ungkapan tersebut menegaskan bahwa keberadaan Sang Sumber Panguripan tidak bergantung pada pengakuan, gambaran, atau ciptaan pikiran manusia. Sang Sumber Panguripan telah ada dalam kenyataan panguripan.
3. Apakah Sang Sumber Panguripan dapat digambarkan dalam bentuk tertentu?
Dalam kerangka ini, Sang Sumber Panguripan tidak dibatasi oleh bentuk. Karena itu, gambaran, reca, atau pepethan tidak dapat disamakan dengan Sang Sumber Panguripan.
4. Apa hubungan Sang Sumber Panguripan dengan Kawruh Sejati?
Kawruh Sejati mengarahkan manusia untuk memahami kehidupan secara jernih, termasuk memahami kedudukan manusia terhadap sumber panguripan tanpa mencampurkan kenyataan dengan gambaran yang dibuat oleh pikiran.
5. Apa hubungan kesadaran dengan pengenalan Sang Sumber Panguripan?
Kesadaran menjadi dasar bagi manusia untuk ngaweruhi panguripan. Melalui kesadaran, manusia dapat memperhatikan keberadaannya, memahami keterbatasannya, serta menata cipta, rasa, dan karsanya.
6. Apakah memahami Sang Sumber Panguripan cukup dengan pengetahuan?
Tidak. Dalam Kawruh Sejati, kawruh perlu diwujudkan dalam laku. Kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan semestinya tercermin dalam cara manusia menjalani kehidupan dan memperlakukan sesama.
7. Apa pengaruh kesadaran terhadap Sang Sumber Panguripan bagi kehidupan manusia?
Kesadaran tersebut dapat menjadi dasar untuk menjalani kehidupan dengan andhap asor, tidak sewenang-wenang, menghargai panguripan, serta terus mengupayakan weninging cipta, tulusing rasa, dan utamaning karsa.

Rahayu, kawruh sejati 🙏
BalasHapusRahayu sagung dumadi
Hapus